Ming. Nov 8th, 2026

Kemendag Hadirkan Program S’RASA di Trade Expo Indonesia 2026 untuk Promosi Rempah Nusantara

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menghadirkan Program Rasa Rempah Indonesia atau S’RASA dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 sebagai langkah memperkenalkan kekayaan kuliner dan rempah Nusantara kepada pasar internasional. Pameran perdagangan yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, ini menjadi kesempatan bagi pelaku Bisnis makanan, bumbu, dan rempah untuk memperluas jaringan perdagangan. Melalui demonstrasi memasak, pengenalan produk, serta pertemuan dengan calon pembeli mancanegara, program S’RASA dirancang untuk menghubungkan identitas kuliner Indonesia dengan peluang ekspor. Inisiatif ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha dalam memperkuat daya saing produk nasional.

Kemendag Perkenalkan Program S’RASA dalam Trade Expo Indonesia 2026

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan membawa Program Rasa Rempah Indonesia atau S’RASA ke ajang perdagangan internasional Trade Expo Indonesia ke-41. Penyelenggaraan TEI 2026 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Partisipasi S’RASA merupakan bagian dari strategi pengembangan ekspor melalui keragaman makanan khas Indonesia. Mendag Budi Santoso mendorong kalangan Bisnis makanan, pembeli internasional, media, dan masyarakat untuk mendatangi Paviliun S’RASA yang berada di Hall 3A-2. Dengan menghadirkan paviliun khusus, calon pembeli memperoleh pengalaman mengenali cita rasa lokal.

Program S’RASA tidak hanya menampilkan makanan siap santap. Konsep yang dikembangkan juga menonjolkan peran bumbu dan rempah dalam kuliner. Dengan memperlihatkan hubungan antara hidangan dan bahan, calon pembeli dapat memahami potensi produk Indonesia. Upaya tersebut diharapkan membuka peluang kerja sama perdagangan. Namun, keberhasilan promosi perlu dilanjutkan dengan hubungan komersial yang konkret. Oleh karena itu, pertemuan pelaku usaha dengan mitra internasional menjadi landasan untuk memperluas peluang ekspor.

Promosi Rempah Indonesia Melalui Pengalaman Memasak dan Mencicipi Hidangan

Daya tarik utama bagi pengunjung S’RASA adalah pertunjukan pengolahan makanan yang memperkenalkan enam hidangan Indonesia. Menu yang diperkenalkan meliputi rendang, sate ayam, nasi goreng, gado-gado, mi bakso, dan soto ayam. Rangkaian kuliner yang ditampilkan mewakili keragaman rasa Indonesia. Perpaduan komposisi bumbu dalam berbagai hidangan tersebut menjadi bagian dari pengalaman mengenal produk lokal. Dengan menyaksikan proses memasak, pengunjung dapat mengenali fungsi bahan dalam masakan. Pendekatan ini juga memberikan pengalaman yang lebih konkret.

Kegiatan kuliner langsung pada TEI 2026 dirancang menghadirkan empat koki ternama Indonesia, yakni Chef Norman Ismail, Chef Sisca Christo, Chef Vindex Tengker, dan Chef Ragil Imam Wibowo. Keterlibatan para koki diharapkan memberikan penjelasan yang menarik. Pemerintah juga merencanakan kehadiran sejumlah pejabat dan pemimpin lembaga terkait, termasuk Menteri Perdagangan Budi Santoso dan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri. Berkat keterlibatan sejumlah pemangku kepentingan, promosi makanan Indonesia dapat dihubungkan dengan kepentingan perdagangan. Interaksi melalui kegiatan mencicipi makanan dapat membantu pengunjung memahami potensi bahan pangan lokal.

Peran Rempah Nusantara dalam Memperkenalkan Identitas Kuliner Indonesia

Bumbu tradisional Indonesia memiliki hubungan erat dengan identitas kuliner nasional. Sejumlah komoditas bumbu seperti jahe, kunyit, lengkuas, ketumbar, dan lada memberikan karakter rasa pada aneka hidangan. Keragaman penggunaan rempah dapat membantu memperkenalkan kekhasan kuliner Indonesia. Dengan memanfaatkan kegiatan pengenalan makanan, produk bumbu dapat dikenalkan bersama hasil olahannya. Cara promosi yang menghubungkan bahan dan masakan memberikan nilai komunikasi tambahan bagi produk. Untuk pengusaha sektor pangan, penjelasan tentang penggunaan rempah dapat memperkaya strategi pemasaran.

Selain memperkenalkan cita rasa, pengenalan bahan pangan dapat mendukung inovasi usaha. Pengembang produk makanan dapat menawarkan rempah dalam bentuk utuh. Berbagai alternatif pengolahan perlu disesuaikan dengan kebutuhan calon pembeli. Untuk memberikan gambaran, pembeli komersial mungkin mengutamakan standar mutu yang seragam. Sementara itu, pengguna akhir dapat mempertimbangkan kemasan praktis. Keragaman tujuan penggunaan menunjukkan bahwa strategi penjualan harus disesuaikan dengan segmen. Jika kebutuhan pasar dipahami secara jelas, produk nasional memiliki dasar pemasaran yang lebih kuat.

Penjajakan Perdagangan Rempah dan Kuliner dengan Mitra Mancanegara

Selain menyelenggarakan demonstrasi memasak, Paviliun S’RASA memfasilitasi pertemuan antara pelaku usaha dan pembeli. Sesi pertemuan komersial tersebut ditujukan untuk memperluas peluang kerja sama dalam industri kuliner. Dengan fasilitas penjajakan perdagangan, produsen dapat memperkenalkan kemampuan pasok. Calon mitra juga dapat menanyakan persyaratan kualitas. Komunikasi perdagangan dua arah menjadi kesempatan untuk menilai kecocokan komersial. Namun, komunikasi awal tidak menjamin keberhasilan ekspor. Negosiasi berdasarkan kebutuhan nyata tetap menjadi faktor penentu hasil perdagangan.

Dalam rangkaian Paviliun S’RASA, Kemendag juga mengumumkan agenda penandatanganan 13 Nota Kesepahaman dengan mitra Bisnis dari lima negara, yaitu Belanda, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia. Kesepakatan tersebut diharapkan mendorong perluasan pasar pangan Indonesia. Dokumen kesepahaman antarpihak merupakan langkah yang dapat mendukung tindak lanjut komersial, tetapi tidak selalu setara dengan kontrak penjualan. Dampak terhadap peningkatan ekspor masih memerlukan pemantauan lebih lanjut. Dengan memahami perbedaan tersebut, manfaat ekonominya dapat dinilai secara realistis.

Strategi Memperluas Pasar Rempah Nusantara melalui Kolaborasi Perdagangan

Partisipasi Program Rasa Rempah Indonesia pada TEI ke-41 dapat membuka ruang pengembangan jejaring perdagangan. Pengusaha produk rempah memiliki peluang untuk mempelajari kebutuhan pembeli. Pada kegiatan ekspor produk pangan, kesesuaian spesifikasi barang menjadi aspek penting bagi calon pembeli. Persyaratan keamanan pangan juga perlu dipenuhi berdasarkan jenis produk. Interaksi dengan pembeli internasional dapat menjadi sarana mengevaluasi kesiapan ekspor. Bagi pelaku Bisnis skala kecil, persiapan dokumen dan kapasitas produksi perlu menjadi bagian dari rencana pengembangan.

Kerja sama antarpemangku kepentingan juga menjadi unsur penting dalam penyelenggaraan S’RASA. Kegiatan promosi ini mendapat dukungan dari sejumlah sponsor dan mitra, antara lain DBFoods, Koperasi Wanita Ikaboga, Mahora-hora, Enak Jaya Makmur atau Enak Eco, Rinnai Indonesia, Unilever melalui Kecap Bango, Bamboe Indonesia, Garuda Indonesia, dan Master Bagasi. Keterlibatan berbagai perusahaan menunjukkan dukungan terhadap pengenalan kuliner Indonesia. Pejabat Kemendag yang membidangi pengembangan ekspor nasional, Fajarini Puntodewi menekankan bahwa Paviliun S’RASA dirancang sebagai pengalaman interaktif. Rancangan promosi semacam ini memungkinkan pengunjung melihat, mencicipi, dan mengenali produk Indonesia. Dalam konteks promosi internasional, warisan kuliner menjadi bagian dari komunikasi Bisnis.

Kesimpulan Program S’RASA dalam Mendukung Promosi Rempah Nusantara

Partisipasi program promosi kuliner Nusantara pada pameran perdagangan internasional menjadi langkah untuk memperluas pengenalan kuliner Indonesia. Lewat pengalaman kuliner secara langsung, calon pembeli memperoleh gambaran penggunaan rempah lokal. Kegiatan penjajakan perdagangan serta penyiapan Nota Kesepahaman lintas negara turut menjadi bagian penting dari strategi perdagangan. Namun, penguatan ekspor membutuhkan kerja sama yang benar-benar berjalan. Konsistensi kualitas akan menentukan peluang perdagangan berikutnya.

Ke depan, kolaborasi pemerintah dan pelaku Bisnis perlu diarahkan pada penguatan daya saing. Warisan cita rasa kuliner nasional dapat menjadi bagian dari identitas produk, selama disertai kemampuan pasok yang konsisten. Melalui langkah tersebut, S’RASA berpotensi memberikan manfaat lebih luas bagi industri kuliner. Bagaimana pendapat Anda mengenai kehadiran S’RASA dalam TEI 2026? Silakan bagikan pendapat Anda agar pembaca memperoleh perspektif yang lebih beragam.

By admin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *